Mengapa Aku Sudah Tidak Ingin Menggeluti Spirit Conjure Lagi


Beberapa tahun belakangan, aku memutuskan untuk berhenti menggeluti praktik spirit conjure, memanggil dan mengikat entitas untuk mendampingi seseorang. Keputusan ini tidak datang tiba-tiba, melainkan hasil dari proses refleksi panjang yang ingin aku bagikan secara jujur.

Aku Melihat Terlalu Banyak Luka yang Tercipta

Selama menjalani praktik ini, aku bertemu banyak klien yang datang dengan harapan besar, namun justru pulang membawa beban baru. Sebagaimana pernah aku ceritakan lewat kisah Nadia di blog ini, aku melihat sendiri bagaimana kontrak dengan entitas bisa berubah menjadi jebakan, terutama bagi mereka yang belum menyembuhkan luka batinnya sendiri. Semakin sering aku menyaksikan pola ini berulang, semakin aku mempertanyakan apakah aku benar-benar membantu, atau justru turut membuka pintu bagi kerapuhan yang lebih besar.

Spirit Bukan Sesuatu yang Layak Diperjualbelikan

Semakin dalam aku merenungkan praktik ini, semakin aku sampai pada satu pertanyaan mendasar yang sulit aku hindari: pantaskah sebuah entitas, sesadar apa pun bentuknya, diperjualbelikan seperti barang dagangan? Coba bayangkan sejenak jika posisi itu dibalik, jika kamu sendiri adalah spirit yang ditarik paksa dari tempatmu berada, lalu "diserahkan" pada orang asing tanpa benar-benar ditanya kesediaanmu. Bagaimana rasanya diperlakukan sebagai komoditas, bukan sebagai keberadaan yang punya kehendaknya sendiri?

Pertanyaan ini terus mengusikku, dan semakin lama semakin sulit aku abaikan. Aku tidak bisa lagi menutup mata dari kenyataan bahwa transaksi semacam ini, betapa pun dibungkus bahasa spiritual yang indah, pada dasarnya tetap memperlakukan sebuah kesadaran sebagai objek yang bisa dipindahtangankan demi keuntungan.

Tidak Semua Conjurer Bekerja dengan Cara yang Lembut

Ada anggapan bahwa proses memanggil entitas selalu dilakukan dengan cara yang santun, semacam wawancara halus untuk memastikan kesediaan spirit tersebut. Sayangnya, dari apa yang aku saksikan sendiri di lapangan, itu jauh dari kenyataan sepenuhnya. Ada conjurer yang menarik spirit dengan cara paksa, bahkan lewat metode yang penuh siksaan, demi memastikan entitas tersebut "tunduk" dan bisa segera diserahkan pada klien yang membayar.

Melihat sisi gelap ini secara langsung membuatku lelah, bukan lelah secara fisik, melainkan lelah secara batin. Aku lelah menyaksikan praktik yang mengklaim membawa terang, namun di baliknya menyimpan kekerasan yang jarang dibicarakan secara terbuka. Kelelahan inilah yang pada akhirnya menjadi salah satu alasan paling kuat bagiku untuk berhenti, karena aku tidak ingin lagi menjadi bagian, bahkan secara tidak langsung, dari lingkaran praktik yang seperti ini.

Tanggung Jawab yang Kurasa Terlalu Berat untuk Dipikul Sendirian

Spirit conjure menempatkan seorang praktisi pada posisi yang sangat berkuasa, menentukan entitas apa yang "diserahkan" pada seseorang, tanpa selalu bisa memastikan bagaimana hubungan itu akan berkembang setelahnya. Semakin dalam aku merenungkannya, semakin aku merasa tanggung jawab ini terlalu besar untuk dipikul, terutama karena aku sendiri tidak bisa menjamin niat baik dari entitas yang terlibat, maupun kesiapan batin setiap klien yang datang.

Jalan Spiritualku Menuntun ke Arah yang Berbeda

Sebagai bagian dari komunitas The Feast, perjalanan imanku terus membentuk cara aku memaknai pekerjaan spiritual yang aku jalani. Aku semakin merasa terpanggil untuk fokus pada peran sebagai pemandu spiritual yang membantu orang mengenal diri dan menemukan kejernihan batin, dibanding melibatkan diri dalam praktik yang berisiko menciptakan ketergantungan pada entitas eksternal. Pergeseran ini bukan tentang menghakimi mereka yang masih menjalani jalan spirit conjure, melainkan tentang mendengarkan ke mana hati dan imanku sendiri sungguh-sungguh memanggil.

Memilih Jalan yang Lebih Membumi

Sebagaimana pernah aku tulis di sini, kekuatan sebesar apa pun tidak ada artinya tanpa kesadaran dan tanggung jawab yang matang untuk menampungnya. Aku ingin memastikan bahwa apa pun yang aku tawarkan pada Transcendent Soul yang mempercayaiku benar-benar mendorong mereka pulang pada diri sendiri, bukan justru membuat mereka semakin bergantung pada kekuatan di luar dirinya.

Bukan Akhir, Melainkan Arah Baru

Keputusan ini bukan penolakan terhadap siapa pun yang masih menjalani praktik spirit conjure dengan penuh tanggung jawab. Ini murni perjalanan personalku sendiri, mengikuti ke mana hati dan imanku memanggil saat ini. Aku memilih untuk terus hadir sebagai pemandu yang membantu orang menyelami dirinya sendiri secara lebih dalam dan jujur, sebuah jalan yang terasa jauh lebih selaras dengan siapa aku hari ini. Aku juga masih mengizinkan spirit ada di sekitarku. Namun, bukan lagi dengan kontrak yang memenjarakan. Tapi justru membebaskan. Aku mengizinkan mereka menjadi dirinya sendiri.


Temukan PERJALANAN MISTIS di media sosial lain:

Instagram : @perjalananmistis

Facebook : Perjalanan Mistis

Tiktok : @perjalanan_mistis

Youtube : @perjalananmistis777

Spotify : Perjalanan Mistis

Merasa terbantu dengan artikel di sini? Dukung Perjalanan Mistis di Saweria biar makin semangat ngonten! Terima kasih sudah berkunjung.

0 Comments:

Posting Komentar

My Instagram