Awal Mula: Permainan Kartu di Italia Abad ke-15
Tarot pertama kali muncul di Italia utara sekitar tahun 1440-an, dengan nama asli tarocchi. Dek tertua yang masih ada, Visconti-Sforza, dibuat untuk keluarga bangsawan di Milan. Pada masa itu, tarot bukan alat ramalan, melainkan permainan trik-taking (trick-taking game) yang setara dengan bridge modern, sekadar hiburan kaum elit.
Struktur dasarnya sudah menyerupai tarot yang kita kenal: 56 kartu Minor Arcana terbagi dalam empat sub (mirip kartu remi biasa), ditambah 22 kartu bergambar alegoris yang kelak disebut Major Arcana. Kartu-kartu ini menggambarkan figur seperti the Emperor, the High Priestess, atau Wheel of Fortune yang merupakan simbol umum pada zaman Renaisans yang terinspirasi filsafat, teologi Kristen, dan alegori moral Eropa, bukan sistem esoterik rahasia.
Abad ke-18: Lahirnya Tarot sebagai Alat Okultisme
Selama lebih dari 300 tahun, tarot tetap menjadi permainan kartu biasa. Pergeseran besar terjadi pada 1781, ketika seorang pendeta dan penulis Prancis, Antoine Court de Gébelin, mengklaim tarot berasal dari Mesir kuno dan menyimpan kebijaksanaan Kitab Thoth yang hilang. Klaim ini tidak berdasar secara historis, tapi sangat berpengaruh. Lalu, dari sinilah tarot mulai dikaitkan dengan mistisisme dan pengetahuan tersembunyi.
Tak lama setelah itu, seorang okultis bernama Jean-Baptiste Alliette (dikenal sebagai Etteilla) menerbitkan dek tarot pertama yang dirancang khusus untuk divinasi, lengkap dengan sistem makna kartu. Ia juga orang pertama yang menghubungkan tarot dengan astrologi dan empat elemen. Sejak titik ini, tarot punya dua jalur paralel: sebagai permainan kartu di sebagian Eropa, dan sebagai alat esoterik di lingkaran okultisme Prancis.
Golden Dawn dan Kelahiran Tarot Modern
Lompatan paling menentukan terjadi di Inggris akhir abad ke-19, melalui organisasi esoterik Hermetic Order of the Golden Dawn. Anggotanya, termasuk Arthur Edward Waite dan seniman Pamela Colman Smith, merancang ulang tarot secara total. Pada 1909, mereka menerbitkan Rider-Waite-Smith Tarot, yaitu dek pertama yang memberi ilustrasi penuh makna pada seluruh 78 kartu, termasuk kartu Minor Arcana yang sebelumnya hanya berupa simbol sub tanpa gambar naratif.
Dek ini mengubah cara tarot dibaca dan diajarkan. Karena setiap kartu punya adegan visual yang bisa "dibaca" secara intuitif, tarot menjadi jauh lebih mudah diakses oleh orang awam, tidak hanya kalangan okultis terlatih. Rider-Waite-Smith sampai hari ini masih menjadi dek paling banyak digunakan di dunia, termasuk sebagai referensi dasar sebagian besar dek modern.
Tarot di Abad ke-20 dan Kebangkitan Spiritualitas Personal
Memasuki pertengahan abad ke-20, tarot mendapat dorongan besar dari gerakan New Age dan minat luas terhadap psikologi Carl Jung, khususnya konsep arketipe dan sinkronisitas. Banyak pembaca tarot mulai memaknai kartu bukan sebagai ramalan pasti tentang masa depan, melainkan sebagai cermin simbolis dari kondisi psikologis dan spiritual seseorang saat itu.
Pergeseran ini penting untuk dipahami. Tarot bergerak dari "alat prediksi nasib" menjadi "alat refleksi diri." Perubahan makna yang sejalan dengan bagaimana banyak praktisi spiritual masa kini memahaminya: bukan untuk mengetahui masa depan secara pasti, tapi untuk melihat pola pikir, emosi, dan pilihan yang sedang dihadapi.
Tarot Hari Ini: Alat Refleksi, Bukan Kepastian
Di era digital, tarot mengalami kebangkitan besar lagi, terutama di kalangan generasi muda yang mencari makna di luar jalur spiritualitas konvensional. Ribuan dek independen kini diterbitkan setiap tahun, masing-masing dengan gaya visual dan filosofi sendiri, dari yang berakar tradisi Rider-Waite hingga yang sepenuhnya eksperimental.
Penting dipahami bahwa tarot, secara historis maupun praktis, tidak pernah dirancang untuk memberi kepastian tentang masa depan. Fungsinya lebih dekat dengan cermin: menyusun simbol yang memancing refleksi, bukan menyampaikan takdir yang sudah ditentukan. Pendekatan ini yang membedakan penggunaan tarot yang bertanggung jawab dari klaim berlebihan yang sering beredar di media sosial.
Kesalahpahaman Umum tentang Sejarah Tarot
Beberapa mitos berikut masih sering beredar dan perlu diluruskan:
- Tarot berasal dari Mesir kuno. Klaim ini tidak benar; klaim ini berasal dari spekulasi Antoine Court de Gébelin abad ke-18, bukan bukti arkeologis.
- Tarot adalah praktik yang dilarang dalam semua tradisi agama. Faktanya, penggunaannya sebagai alat refleksi diri banyak diadaptasi lintas tradisi spiritual dengan cara pandang yang berbeda-beda.
- Setiap kartu punya satu makna tetap dan universal. Sayangnya, makna kartu berkembang seiring waktu dan berbeda antar tradisi (Marseille, Rider-Waite, Thoth), sehingga interpretasi selalu kontekstual.
Mengapa Sejarah Ini Penting bagi Praktik Spiritual Kita
Memahami asal-usul tarot membantu kita menggunakannya secara jujur dan bertanggung jawab. Tarot bukan sistem kuno yang diwariskan dari peradaban hilang, melainkan hasil evolusi budaya, seni, dan pemikiran manusia selama enam abad, dari meja permainan bangsawan Milan, ruang okultisme Paris, hingga meja baca modern kita hari ini.
Bagi siapa pun yang menjadikan tarot sebagai bagian dari perjalanan mengenal diri, mengetahui sejarah ini adalah langkah pertama untuk membaca kartu dengan integritas: bukan mencari kepastian instan, tapi ruang untuk berhenti sejenak, mengamati pola, dan mendengarkan apa yang sudah kita ketahui secara batin namun belum kita sadari sepenuhnya.
Temukan PERJALANAN MISTIS di media sosial lain:
Instagram : @perjalananmistis
Facebook : Perjalanan Mistis
Tiktok : @perjalanan_mistis
Youtube : @perjalananmistis777
Spotify : Perjalanan Mistis
Merasa terbantu dengan artikel di sini? Dukung Perjalanan Mistis di Saweria biar makin semangat ngonten! Terima kasih sudah berkunjung.
Tarot
0 Comments:
Posting Komentar